Avatar Parampaa: Day #9. Kasih Gopek.
Kenapa gopek?
Karena di mobil saya banyak koin gopekan yang selalu ditempatkan di laci dashboard menanti untuk diberikan kepada tukang parkir atau pengemis. Memang nominalnya semakin tidak relevan, apalagi tukang parkir makin semangat priwit-priwit kalo dikasih gopekan (manggil lagi, “Kurang 1500 woi!”) dan pengemis juga kalo dikasih cuma gopek masih mau walaupun mulutnya jadi manyun lalu saya ambil hape dan menyalakan kameranya dan dia mengacungkan kedua jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V di samping bibir manyunnya layaknya pose foto abege, tapi yang terpenting bukan nominalnya. Tapi angkanya.
PRIIIIT! “Mas, nominal sama angka kan sama aja!?!?” protes tukang parkir yang tadi.
Oh iya, betul sekali Pak. Maksud saya adalah jangan lihat nominalnya tapi ketulusan hati untuk memberi dan saling menolong sesama. Mungkin nanti kalau saya sudah punya pohon duit, saya bisa kasih goceng. Atau goban. Tapi kalau pohon duitnya berbuah duit koin, ya lagi-lagi cuma bisa ngasih gopek. Betul begitu, Pak Tukang Parkir?
Mendengar penjelasan ini, Pak Tukang Parkir manggut-manggut tanda setuju. Saya dan Pak Tukang Parkir pun bersalaman, lalu kami bersama-sama berjalan menuju matahari terbenam, tidak lupa mengajak Pengemis yang berpose foto abege dengan bibir manyunnya tadi untuk makan bersama di sebuah warung kaki lima, diiringi dengan lagu “Kemesraan ini janganlah cepat berlaluuu~” yang dinyanyikan oleh seorang Pengamen. Tak lupa saya merogoh saku celana, meraih gopek dan mengajak Pengamen tersebut ikut makan bersama di warung kaki lima yang berada di ujung jalan, yang tersiluet cahaya matahari terbenam.
Fin.
(± )
#blog #Twitter #30HariAvatarParampaa