Pak Polisi dan Daun Singkong Wasiat

Di suatu sore yang cerah, saya terhenyak karena melihat nama fesbuk…

“Rifkyelvikingxzaticntapersibgt GapunyafesbukNgapunyanmaeuylur Lgimenyembunyikanpesawaterbang.” 

Yang membuat saya berpikir,

Ini si Rifkyblablabla lagi menyembunyikan pesawat terbang siapa ya…  

Keadaan ini sangatlah mencurigakan sehingga memaksa saya berlari ke kantor polisi. Namun baru sepuluh meter berlari, saya merasa capek sehingga memutuskan untuk…

“OJEK!”

Tukang ojek berkumis tebal yang selalu tersisir rapi (“Siapa tau saya juga jadi gubernur, Bang!) datang menghampiri dengan motor bututnya,

“ Ke kantor polisi ya, Bang!” 

“Nah gitu dong. Hayolah naik, Bang! Ini helmnya dipake dulu Bang, kita harus menaati peraturan lalu lintas.”

“Oh pasti dong.” Saya memakai helm dan naik ke jok motor.

Tukang ojek memacu motornya hingga sampai ke kantor polisi.

“Ini ya Bang, lima ribu,” sahut saya sambil memberikan uang ke tangan Si Abang Ojek.

“Ah naikin dikit deh!” tawar Si Abang Ojek.

“Ya udah, nih saya bayarnya tinggiin dikit di muka abang.” Saya menaikkan uang lima ribuan ke mukanya.

“Nah gitu dong!” Si Abang Ojek menyambar uang yang melambai-lambai di depan matanya lalu ngeloyor pergi.

Saya melihat seorang polisi bermuka masam di teras sedang sibuk menatap layar hapenya. Ragu saya ingin menghampiri, tapi saya harus cepat sebelum Rifkyblablabla itu beraksi!

“Pak pak, itu si Rifkyblablabla lagi menyembunyikan pesawat terbang! Kayanya curian Pak.”

“…” Pak Polisi menengadahkan kepalanya sebentar, lalu cuek dan kembali memainkan hape.

“Kok bapak diem aja sih? Kan saya laporan Pak!” Saya protes.

Pak Polisi menghela napas, “…pusing, mas. Saya lagi ada masalah dengan istri saya.”

“Loh kenapa???” Saya kaget karena ada semut yang menggigit jempol kaki kanan saya. PLAKKK! Satu tepukan saja, semut itu mati.

“Ada sms nyasar masuk, isinya pake sayang2 gitu. istri saya baca terus nanya, ‘BANG? SMS SIAPA INI BANG???’ Gitu, Mas, “ sahut Pak Polisi pasrah.

“Aduh sabar ya Pak.” Saya mengelus-elus dada sendiri karena mengelus dada anak gadis tetangga bisa berakibat dirajam massa.

“Sabar sih, Mas. Tapi piring di rumah udah abis. Dilemparin! Ini saya lagi rayu2 istri saya di sms.” Lanjut Pak Polisi dengan muka manyun.

“Yasudah mas bro,” lanjut saya sambil duduk di sebelah polisi, “mending kita hepi2 aja.” Tiba-tiba lagu Chaiyya Chaiyya mengalun dari hape saya. Bagaikan jelangkung yang datang tak diundang, muncullah Briptu Norman dari balik meja dan menari Chaiyya Chaiyya, diiringi para napi dan polisi lainnya sebagai penari latar yang menari hingga lagu habis.

Dunia kembali tentram.

Amin.

Lantas apakah polisi tadi berbaikan dengan istrinya? Otentutidak! Pak Polisi memutuskan pergi ke pasar membeli satu set piring plastik biar ada alas makan baru di rumah. Tapi di perjalanan ke pasar, pak polisi mendengar suara jeritan,

“TUOLLLOOOONG!!”

“Hah, suara apa itu?” katanya sambil menoleh ke kiri-kanan kulihat saja banyak pohon cemara.

Ia pun berlari ke arah datangnya suara dan mendapati seekor kancil yg kakinya terjebak perangkap, siap-siap diterkam beruang!

“TUOLOONG!” jerit Si Kancil ketakutan.

Pak Polisi terhenyak. Pak Polisi ikut ketakutan, tapi tetap iba sama si kancil.

Ia mengumpulkan segenap keberaniannya dan berteriak, “Heh beruang! Jangan makan si kancil!”

Beruang menoleh. Lutut Pak Polisi gemetaran.

Beruang berjalan mendekati Pak Polisi yg diam terpaku,

“GROAAAR!!! ..tapi kasian saya Om, sudah tiga hari belum makan, Om..” katanya sedih. :’(

Mendengar hal ini, Pak Polisi jadi iba. Uang pas-pasan yang tadinya hendak dipakai membeli piring plastik diberikan ke beruang, “Sana beli nasi rames!” katanya.

“HOREE! Makasih Ooom!” Beruang berlari-lari kesenangan ke warung tegal. Melihat beruang telah pergi, Pak Polisi membuka jebakan yg menggigit kaki Kancil.

Kancil terharu, “Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu?”

“Ah tidak perlu,” jawab Pak Polisi, “sudah sepantasnya aku melindungi kota ini.” Katanya optimis dengan tatapan menerawang ke arah langit dengan awan yang bergerak di kejauhan.

Mendengar jawaban Pak Polisi, mata Kancil berbinar-binar, “Sungguh mulia dirimu, Pak Polisi! Kalau begitu aku berikan dua lembar daun singkong ini, masukkan di kantong celanamu ya!” 

“Eh? Daun singkong?” Pak Polisi bingung, tapi ia tidak bertanya apa-apa lagi dan pulang saja ke rumah. Tak lupa sebelumnya ia yuk dadah babay dulu ke Kancil.

Setelah berjalan sampai rumah dan membuka pintu depan, ia disambut istrinya yang memarahi dirinya,

“KAMU KEMANA SAJA HAH???” teriak istrinya layaknya seorang vokalis grup band metal di konser metal (ya iyalah masa konsernya musik keroncong).

“Aku habis nolongin kancil yg mau dimakan beruang, mah,” jawab Pak Polisi.

“EMENURUTLO DI KOTA BEGINI ADA KANCIL SAMA BERUANG???” Sang Istri tidak terima.

“Tapi beneran mah, beruangnya tadi aku kasih duit buat makan nasi rames malah.” Pak Polisi membujuk rayu Sang Istri.

“AH PASTI DUITNYA BUAT FOYA-FOYA SAMA WANITA LAIN, NGAKUUUH!!” Bujuk rayu Pak Polisi gagal, sodarah-sodarah!!

“Beneran mah! Ini buktinya tadi si Kancil ngasih daun singkong…”

Pak Polisi merogoh saku celananya mengambil dua lembar daun singkong… namun alih-alih mengeluarkan daun singkong, yg ada hanya dua kertas putih, “Apa ini? Tiket VIP.. Jas..tin Beber?” Pak Polisi menyipitkan mata berusaha membaca kata-kata yang tercetak rapi di atas kertas putih tersebut.

Mendengar hal ini Sang Istri tentu saja kaget,

“APAAAH??? PAPAH BELIIN AKU TIKET JASTIN BEBER? VIP? OH PAPAAAH AI LOP YUUU!” Sang Istri yg ternyata fans Jastin Beber mendadak histeris, kejang-kejang, dilanjutkan dengan kayang dan tiga kali rol depan rol belakang.

“…itu kesenengan apa senam lantai?” komentar seorang pembaca yang terheran-heran sama kelakuan Sang Istri.

Sang Istri memeluk Pak Polisi, “MAAFKAN AKU YG SEMPAT MERAGUKANMU PAPAH! AKU KHILAF!”

“Iya Mamah, yg penting kita bisa seperti dulu lagi.”

Pak Polisi mendekap Sang Istri erat-erat, tanda sayang bercampur haru dan tangisan rindu. Kini semua masalah sirna sudah, berganti rasa cinta yang mereka rasakan seperti saat bulan-bulan awal pacaran.

Diam-diam Kancil mengintip adegan tadi dari balik jendela dan tersenyum. Sedetik kemudian, ia berubah menjadi Ibu Dibyo dan berjalan hingga hilang di belokan.

Tamat.

*menutup buku*

*menitikkan air mata*

*sungguh cerita yang mengharukan*

 Pesan moral cerita:

Jangan ragu untuk berbuat baik, agar kelak kebaikan terjadi padamu juga.

 

  

@1 year ago with 2 notes
)
#lakon Twitter #blog 
  1. mahatmajaya reblogged this from jonathanend and added:
    Tadinya kirain daunsingkongnya berubah...piring. Diluar dugaan
  2. jonathanend posted this
blog comments powered by Disqus Website counter