Avatar Parampaa Day 18: Langit Terbuka.
Pada suatu hari seorang pemuda ganteng, sebut saja Joni, berjalan kaki di bawah cerahnya langit biru memikirkan bagaimana caranya ia bisa membeli Canon 5D Mark II dan laptop Macbook Pro 17” yang sudah ia idam-idamkan dari dulu. Dalam perjalanannya, ia melihat seorang burung kecil yang merintih kesakitan karena terluka sayapnya.
“Ada apa burung kecil?” Joni menghampiri burung tersebut.
“Aku tadi ingin pacaran. Lalu aku pergi ke taman dan memetik sehelai bunga mawar dan kuselipkan di bawah sayap. Apa daya durinya menggores sayapku hingga terluka dan aku tak bisa terbang!” rintih si burung sedih.
“Ah, sungguh malang dirimu. Kalau begitu terimalah ini satu lembar uang 10 ribu dan satu lembar uang seribu!” Joni merogoh kantongnya dan memberikan lembaran uang tadi ke burung gereja.
“Loh kok?” burung gereja kebingungan, “…untuk apa kedua lembaran uang ini?”
“Uang seribu untuk membungkus tangkai mawar agar kau tak tergores durinya lagi,” sahut Joni.
“Kalau uang 10 ribunya?”
“Untuk naik angkot ke rumah pacarmu, wahai burung gereja yang malang.”
“Oh! Sungguh kau baik hati, wahai pemuda ganteng nan budiman! Entah bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu ini.” Bunga mawar kini tangkainya sudah terbungkus uang seribu dengan cantik.
“Tak perlu kau ungkit lagi, pergilah, kasihan pacarmu yang sudah menunggu!”
Segera burung gereja pergi disaksikan oleh Joni yang berdiri tersenyum menyaksikan angkot yang… masih saja ngetem.
*tepok jidat*
“Bang, cepetan cabut dong! Itu kasihan si burung mau pacaran!” Joni langsung menghampiri Pak Supir yang meraih korek api hendak menyalakan rokok.
“Apah??? PACARAN??? Kenapa nggak bilang dari tadi!” Sontak Pak Supir melempar kembali korek ke atas dashboard dan menancap gas demi mengantar si burung ke tempat pacarnya.
Sedetik kemudian tiba2 terdengar suara gemuruh dari langit,
“SUNGGUH MULIA HATIMU, WAHAI PEMUDA GANTENG. MAKA TERIMALAH INI AGAR JANGANLAH HATIMU BERKELUH-KESAH LAGI.”
Seketika langit terbuka dan Canon 5D Mark II dan Macbook Pro 17” turun perlahan. Joni menatap tak percaya, menanti kedua benda itu sampai di tangannya.
EPILOG:
Tiba-tiba sekelompok anak kecil membawa batang bambu muncul berlarian dari balik tembok mengira kedua benda tersebut adalah layangan putus, dan merebutnya pergi meninggalkan Joni yang berdiri terdiam seorang diri.
(± )
#30HariAvatarParampaa
